Data Nilai Siswa

Pencarian

Polling

Bagaimanakah website ini secara umum menurut anda?
 


Trio Bukanlah Milikku PDF Print E-mail
Written by admin   
Tuesday, 27 October 2009 02:43

Oleh: Yessie Finandita P. / IXB

Tak pernah kuharap, ku kan mencintai dirinya. Seolah seperti pangeran, tinggi, ganteng, sempurna. Itupun dimataku bukan di mata teman-temanku. Semua berawal dari kegiatan MOS.  Aku dan Trio satu kelompok dalam kegiatan tersebut. Tak disangka kegiatan outbondpun ku bersama dirinya. Dan tanpa kusadari rasa itu hinggap di hatiku. Rasa terlarang yang tak seharusnya ada. Begitu senang jika Trio sms aku. Tapi rasa senang itu hilang ketika aku berbicara dengan Nanda.

“ Trio dulu dekat sama Ratna, Cinta, terus sekarang Echi.” kata Nanda.
“ Maksud kamu Nda ?” jawabku dengan polos dan tak tahu menahu.
“ Ya sering sms-an gitu.”
“ Nda, mereka dekat ya?”jawabku yang mencoba menenangkan hatiku yang mulai gelisah.
“ Ya dekat banget malah.”jawab Nanda
“ Hancur dech hatiku.” jawabku dengan kesal.
Malam itu kubermain gitar di depan rumah. Tiba-tiba Trio sms aku. Dengan kata yang tak mempesona membuatku malas untuk membuka sms itu.
 Woi Chi cari botol berapa ?
 40 saja sudah cukup kok, dilubangin jugu ya Yo?
Aku tak berfikir kalau botol yang diperlukan hanya 2. Pagi ini indah sekali tapi hatiku gundah, takut Trio akan marah padaku soal tadi malam. Tapi udara sejuk dan semangatku yang tinggi membuat semua suasana berubah.
“ Chi maksud kamu apa? Yang dibutuhinkan hanya 2 tapi kenapa kamu bilang 40? Aku capek nglubangin tahu.” Trio datang dengan wajah marah.
“Maaf Trio tadi malam ku tak berfikir kalau yang dibutuhkan hanya 2.” jawabku dengan nada bersalah.
“ Aku ditertawakan Pak Riyo tahu. Aku kan jadi malu.”
“ Iya maaf dong, gitu saja kok ngambek nanti gantengnya hilang lo.”
Semua kegiatan berlangsung sukses dan menyenangkan. Malam itu kuberfikir kalau aku memang suka dengan Trio. Melihatnya dan dekat dengan dirinya rasanya nyaman sekali. Setiap malam kita sering sms-an tetapi mengapa Trio sering  menanyakan Cinta ke aku. Aku ngambek dengan dia karena dia tak tahu rasanya hatiku.
 
Akhirnya aku harus bercerita terus terang degan Trio, kalau aku memang sayang sama Trio. Tapi dia cuek, tidak pernah perduli, dan tidak respek.
Selalu saja membuatku menangis. Tapi dia tidak menyadari kalau dia telah menyakiti hatiku. Kita tak pernah akur malah kita sering marah-marahan. Aku sudah tahu tentang keganjilan ini, tapi kucoba untuk melupakan ini semua. Karena kuharap dia kan jadi milikku untuk selamanya. Tetapi mengapa Trio selalu saja memamerkan kedekatannya dengan Cinta. Akhirnya aku sms Trio.
Yo, apa benar kamu deket sama Cinta?
Dekat dong, kan aku sahabatan sama dia.
Tapi Yo, kamu suka sama Cinta?
Maaf ya Chi ini urusanku
Tapi Yo aku hanya ingin tahu saja.
Chi, kamu tahu tidak, kamu itu dating disaat aku dekat dengan Cinta.
Maksud kamu Yo, yang dating di kehidupanku kan kamu bukan aku.
Chi, jangan pernah kamu melihat sms aku dengan Cinta, aku yakin kamu pasti cemburu.
Yo, kamu itu hanya bisa membuat aku nangis.
Sekarang hanya air mata yang temani tidurku. Pagi ini ku tak semangat sedikitpun. Bahkan untuk melangkahkan kakipun begitu sulit. Aku bercerita dengan teman-temanku, berharap hatiku akan tenang. Tetapi teman-temanku menyuruhku sms Trio untuk mengajak ketemuan. Akhirnya kita ketemuan. Tapi aku tak berani melihatnya. Aku hanya bisa menangis saja dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
“Chi, nanti pulang sekolah ditunngu Trio di tempat biasa. Tapi berdua Chi.” tanya Dhofi yang datang menghampiriku.
“ Ok dech.” jawabku singkat
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung pergi ke tempat itu.
“ Chi, kenapa kamu membawa teman sebanyak itu?” tanya Trio terburu-buru.
“ Ku tak menyuruh mereka Yo, itu keinginan mereka sendiri.” jawabku dengan penuh arti.
“ Tapi kan bisa kita omongin berdua Chi? Katane kak Tyas kamu dan teman-temanmu membenci Cinta? Ya kan?”
“ Tidak Yo. Kita tidak benci kok sama Cinta. Coba saja kamu yang jadi aku, sakit Yo rasanya.” jawabku dengan sedih
Tanpa menunggu dia menjawabpun aku langsung pergi dan menangis seketika. Semua serba salah. Jadinya aku sms Cinta sore ini.

Cin, aku rela kalau kamu sama Trio.
Tidak Chi, ku tak suka dengan Trio. Udahlah Chi buat apa juga rebutin dia. Tak penting
Chi,
Tapi Cin, Trio sayang banget sama kamu. Jangan kecewain dia Cin.
Udah Chi, tak usah mikirin dia lagi.
Malam itu sekitar jam 19.00 aku sms Trio.
Yo, aku dah relain kamu untuk Cinta.
Walaupun keputusan itu sulit sekali tapi aku harus mengalah walaupun mengalah itu tak berarti kalah. Sampai aku sering mengirimkan kata-kata yang cocok untuk dirinya. Trio ku tak bisa melupakanmu. Aku sayang kamu Trio.ku tak bisa melupakanmu. Kamu terlalu indah di hatiku. Mengapa orang yang kusayangi selalu saja bersama orang lain. Sekitar pukul 20.00 nomor baru masuk di handphoneku.
Chi, ini aku Dhofi
Lagi ngapain?
Ow kamu Fi. Ada apa?
Dhofi adalah teman curhatku. Aku sering curhat dengan Dhofi, karena dia teman dekat Trio.
Chi, kamu rela tidak kalau Trio sama Cinta?
Rela, walaupun sakit dan sulit. Kenapa sih ngomongin ini lagi. Bosen tahu.
Tapi Chi, kamu kan juga sayang sama Trio.
Mau bagaimana lagi Fi, kalau mereka memang suka sama suka, kenapa tidak.
Chi, Trio itu bagaimna menurut kamu?
Dia itu orangnya cakep, tinggi, ideal, pokoknya seleraku banget dech. Aku senang lihat
Wajah dia yang seperti ksatria. Sudahlah Fi, tak usah ngomongin dia lagi. Walaupun dia
Tak sayang sama aku, tapi aku tetap sayang dia Fi.
Aku mulai merasakan keganjilan itu, di fikiranku yang sms aku itu Trio bukan Dhofi. Seketika itu juga aku langsung telepon nomor Trio ternyata nomor dia tidak aktif dan aku telepon Dhofi ternyata nomor dia aktif. Pagi ini langsung kutemui Dhofi.
“ Fi ini nomor kamu ?”tanyaku
“ Bukan kok. Ku tak unya nomor XL. Memangnya ada apa?”jawab Dhofi tak mengerti.
“ Kemarin nomor ini sms aku. Ngakunya kamu, dan Tanya masalah aku, Trio dan Cinta. Fi tolong cari siapa yang punya nomor ini.”
“ Ok dech, nanti tak carikan.”
“ Terima kasih Dhofi.”jawabku senang
Malam itu kucoba sms nomor itu. Ternyata benar itu semua adalah kerjaanya Trio. Tapi sudahlah sekarang dia sudah tahu bagaimana perasaanku. Aku coba setengah mati untuk melupakan Trio, tapi tetap saja tak bisa. Tak disangka tak dinyana bulan puasa datang juga aku sambut bulan penuh berkah ini dengan suka cita. Kuberharap akan lebih baik lagi hubunganku bersama dirinya.
    Tak pernah aku bermaksud mengusikmu
    Mengganggu setiap ketentraman hidupmu
    Hanya tak mudah bagiku lupakanmu dan
    Pergi menjauh
    Beri sedikit waktu agar kuterbiasa
    Bernafas tanpamu

Walaupun kita tak pernah berbicara tetapi dia melihatku dan aku melihatnyapun sudah cukup senang.  Siangnya kita bahas masalah buka bersama Osis, dan tempatnya dirumahku. Kuharap dia akan datang. Tepat jam 17.00 Trio datang memakai baju hitam yang kelihatan ganteng sekali, bak pangeran yang turun dari langit.
Banyak waktu yang kuhabiskan bersama dirinya. Selesai itu semua Trio sms aku.
Aku tadi pulang sama dia lo. Dan kita ngobrol sebentar.
Memangnya penting kamu cerita seperti itu sama aku.
Aku menjadi sebal dengan Trio, suka sekali dia membuat masalah. Di bulan puasa ini aku tak pernah bertengkar dengan dia karena aku lebih memilih untuk diam. Tapi Trio cerita banyak ke aku tentang dia dan keluarga dia. Semua tentang dia. Tapi ku tak mau kalau harus dijadikan yang kedua. Malam itu Trio sms aku, intinya dia pengen lupain aku. Kak Iza bicara sama Trio kalau harus melupakanku, aku memang tak apa untuk dilupakan tapi waktunya belum tepat. Trio yang slalu temani tidurku di setiap mimpiku.
Hari kemenanganpun tiba. Aku menanti hari sabtu, karena anak-anak osis ada acara yaitu sejarah kerumahnya Guru SMP. Sekaligus ingin bermaafan dengan teman-teman. Sabtu pagi kupersiapkan baju, celana, kerudung dsb. Aku berangkat pukul 06.45 cukup lama aku menuggu kedatangan Trio, akhirnya Trio datang juga dengan mengenekan hem putih. Sungguh seperti pangeran yang datang menyambut sang tuan putri. Sekilas mataku sulit untuk dikedipkan. Sungguh sangat mempesona. Aku minta maaf sama dia dan dia jabat tangan aku. Aku meminjam handphonenya, lalu kubuka album fotonya kulihat banyak sekali foto Cinta. Sakit rasanya melihat itu semua dan langsung kuberikan pada Yani. Saat itu juga aku sangat sulit untuk senyum. Malamnya Trio sms aku.
Chi kenapa kok tadi cemberut? Memangnya senyum kamu itu berapa harganya?
Tidak dijual. Hanya orang yang sayang sama sku yang tahu senyum aku.
Besoknya aku ganti nomor dan aku sms Trio memakai nomor yang baru.
Yo. Ini nomorku yang baru. Kalau sms di nomor ini saja. Echi
Echi siapa ya? Aku tidak kenal dengan Echi
Aku ini teman kamu Yo? Kok lupa?
Oo arek Ponorogo ya? Ini kakaknya Trio, dia sedang sms-an sama Cinta.
Ow gitu ya kak. Bilang saja tadi dicariin Echi.
Dik. Kamu itu masih kecil, sukane sms-an saja
Memangnya Trio sudah besar apa?
Eh kamu itu jangan nafsu sama adikku.  Jangan harap kamu bisa dapatin dia.
Kak, kamu itu sudah besar tapi kenapa tingkah laku kamu itu sama dengan anak kecil. Maaf ya kak aku bukan cewek yang seperi itu.
Dari kejadian itu tak terasa air mataku membahasi kedua pipiku. Ternyata besuk sudah masuk sekolah. Aku senang karena aku bisa bertemu dengan teman-temanku. Hari sabtu kita rapat untuk membahas tentang reformasi. Tapi tak tahu entah mengapa Trio melihat Cinta terus. Dari itu aku jadi malas ikut rapat. Menyebalkan.
Besoknya Nasti bercerita kepadaku kalau kemarin dia pulang dengan Trio. Intinya Trio tak tahu harus memilih siapa. Dan kalau Trio memilih Cinta, Trio harus melupakan Echi. Tapi kalau Trio memilih Echi, Trio harus melupakan Cinta. Tapi Trio bingung harus memilih siapa.
Dua hari setelah itu Nasti mxitan dengan Trio. Intinya Trio lebih memilih Cinta karena sifat Cinta yang tidak sensitiv. Aku rela mengalah dan hujan deras membahasi kedua pipiku. Dari itu semua aku lupa kalau ada pemilihan ketua Osis, aku menuju ke tempat penyontrenganpun aku masih menangis. Dan Trio yang melihat kejadian itu bingung melihat diriku.
Akhirnya aku harus berfikir kalau aku memang harus mengalah. Biarkan Cinta dengan Trio asalkan mereka bahagia. Aku merelakan ini semua, walaupun sulit dan sakit untuk diriku. Akhirnya kita semua bersahabat. Dan aku hanya bisa diam seribu bahasa.

  To Trio
Tujulah tempat yang terbaik bagimu, jika kusudah tak lagi dihatimu, dan percayalah hanya bahagiamu buatku tersenyum hingga hari ini.
Waktu berlalu bagai kisah yang indah, hingga setiap detik begitu berarti, tak kan kulupakan kenanganku bersamamu buatku tersenyum hingga hari ini.
                            From Echi

 
Sekuntum Mawar Layu PDF Print E-mail
Tuesday, 27 October 2009 02:29

Oleh: Ricky Roosdiana Dewi IX B

Pagi yang cerah berubah menjadi kelam. Angin berhembus kencang. Langit biru dan awan putih menjadi gelap. Mentari tak menampakkan dirinya lagi. Kilatan cahaya saling menyambar. Suara guntur saling bersautan. Menjadikan pagi nan indah mencekam.

Tetes-tetes air mulai jatuh dari atas tirai itu. Hujan badai yang sangat besar dan lama. Dan membuat kami tak bisa bermain dengan leluasa. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdiam diri di dalam kelas, yang diiringi gemericik air yang jatuh menabrak batu atau pohon. Aku duduk termangu di dekat jendela. Merasakan dinginnya pagi saat itu. Hingga membawa pikiranku terbang, menjelajahi memoriku yang kacau. Dan berhenti pada sebuah kejadian satu minggu yang lalu, saat aku bertemu dengan cowok yang nggak menyenangkan itu.

“Vio! Kamu mau kan nemenin aku ngambil buku matematikaku?” kata Tiara memelas.
“Mm… Di mana?”
“Di kelas IX E.” jawabnya.
“Hahh, emang nggak bisa ngambil sendiri?” kataku lagi.
“Enggak.”

Akhirnya aku menemani Tiara mengambil buku matematikanya di kelas IX E. Kelas itu yang paling jauh dari kelasku. Letaknya paling ujung gedung barat, di sebelah kanan ruang OSIS. Makanya kami jarang mengunjungi kelas itu.

Sampai di sana, pelajaran sudah selesai. Tapi banyak anak yang masih tinggal di sekolah. Sebagian anak bermain dalm kelas, tapi ada beberapa anak yang bermain di luar kelas. Di depan pintu, seorang cowok tampak sedang menunggu kedatangan seseorang. Dia membawa sebuah buku. Lalu kami menghampiri cowok itu. Cowok itu sepupu Tiara, namanya Adrian. Badannya tinggi tegap dan kulitnya putih.

Sekarang, setiap hari aku selalu bertemu dengannya. Itu karena aku, Tiara, dan Adrian akan  mengikuti lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang akan dilaksanakan 2 bulan lagi.

Sebenarnya aku tak mau sekelompok dengan Adrian karena dia  anak yang sangat usil. Setiap ada kesempatan, dia selalu mengerjaiku. Suatu ketika, aku sedang makan siang. Tiba-tiba Adrian menyodorkan kaus kakinya kepadaku. Yaks! Bau sekali. Mungkin dia tidak mencucinya selama 1 bulan. Dan akhirnya selera makanku lenyap.

Berkali-kali kubujuk Tiara untuk mengganti Adrian, tapi dia tak mau. Dia berkata bahwa, “Hanya Adrian yang pantas untuk ikut di kelompok kami, walaupun dia usil, tapi sebenarnya dia itu anak yang baik dan cerdas.” Setelah dia berkata seperti itu aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

Hari ini penelitian kami akan di mulai pukul 15.00 di rumah Tiara. Dengan riang kulangkahkan kaki keluar dari kelas menuju pintu gerbang setelah seharian hujan mengguyur kota kami. Akhirnya pagi yang kelam telah berlalu menjadi siang yang cerah. Kuangkat tanganku sembari melihat jam tangan kesayanganku yang terpasang di tangan kiriku. “Ternyata masih jam 13.30, mmm… enaknya aku kemana dulu ya?” tanyaku pada diriku sendiri. Aku berjalan tanpa arah. Berharap menemukan sesuatu yang bisa menghabiskan waktuku hingga pukul 15.00.

 Aku terus berjalan melewati gerbang sekolah, taman bunga, supermarket hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah toko buku. Kupandang toko itu lekat-lekat. “Aha…” kataku sambil menjentikkan jari tengah dan jempolku. “Aku pergi ke toko buku itu saja, kebetulan ada buku yang sedang ingin kucari.” kataku sambil menunjuk toko buku itu.

Kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju toko itu. Sampai di depan pintu, kutunggu sejenak hingga pintu itu terbuka. Lalu melangkah masuk.

Sebelum mencari buku itu, kuambil sebuah kotak dari dalam ranselku. Kubuka kotak itu dan kuambil isinya. Lalu kukembalikan lagi kotak itu ke dalam ransel. Kupasang kaca mata kecilku agar mudah untuk mencari buku itu. Jam sudah menunjukkan pukul 14.45, tapi aku belum juga mendapatkan buku yang aku inginkan.

Tiba-tiba seseorang memberikan sebuah buku padaku. Kubenarkan letak kaca mataku yang letaknya sedikit merosot dari mataku. Kubaca judul buku itu keras-keras.“ Penelitian-Penelitian yang Dilakukan Para Penemu Terkemuka. Ini dia.” kataku senang. Kupalingkan wajahku ke arah orang yang telah memberikan buku itu padaku. Dan orang itu ternyata adalah …

“Adrian.” pekikku spontan kaget. Kenapa dia bisa ada di sini? tanyaku dalam hati.
“Aku tadi cuma mau jalan-jalan kok. Mungkin dengan ke sini aku bisa dapat sesuatu yang bagus.” katanya.
“Apa?”
“Tadi kulihat kamu sedang nyari sesuatu, jadi kupikir kamu lagi mencari ini!” katanya sambil menunjukkan buku itu.

Aku terdiam. Sulit kupercaya. Kenapa dia bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan? Apakah dia… Ahh tidak tidak. Pikiranku masih melayang di angkasa, berbagai dugaan-dugaan memenuhi ruang di kepalaku. Tapi tak beberapa lama Adrian membangunkanku. Dia menepuk pundakku dengan tiba-tiba. Aku melonjak kaget, jantungku mau copot rasanya.

 “Kamu itu polos ! Mudah ditebak! Makanya aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan.” katanya lagi yang akhirnya membuat dugaan-dugaan tak jelas itu hilang tertelan bumi.

Aku tersipu malu. Apakah kuterlihat sepolos itu? Sampai-sampai semua orang bisa menebak jalan pikiranku.” hati kecilku bertanya lagi. Tapi entah kenapa kali ini dia tidak seperti biasanya. Dia jauh lebih ramah dan tidak mengerjaiku seperti yang lalu-lalu. Tapi dia malah membantuku. Aneh.

“Thanks ya!” kataku akhirnya. Kupaksakan seyum padanya. Mungkin ini terlihat begitu aneh di depannya. Selama ini aku tidak pernah senyum padanya, makanya pertama kali aku senyum pasti terlihat aneh.
“Kok senyumnya nggak ikhlas? Kalau nggak bisa senyum, ya nggak usah senyum. Kamu jadi tambah jelek tahu?” Katanya tertawa renyah yang diakhiri dengan sebuah senyuman yang manis. Sepertinya senyumnya kali ini benar-benar tulus padaku. Tunggu! Senyumnya manis??

DEG!! Hatiku bergetar. Getaran-getaran ini semakin lama semakin kencang. Mengalir di setiap denyut nadiku. Hingga membuatku jadi tak karuan. Dan rasa ini sepertinya tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku tak tahu bagaimana raut mukaku sekarang. Yang jelas pasti lebih merah dari warna darah. Sekali lagi kumelayang-layang. Dan lagi-lagi Adrian membangunkanku.

“Eh, kayaknya kita udah telat deh?” Katanya sembari melihat jam tangannya.

Aku jadi teringat akan penelitian kami yang akan dilaksanakan di rumah Tiara. Gawatt!! Sekarang ini dia pasti sangat marah karena kami tak kunjung datang, begitu pikirku. Aku bergegas menuju kasir untuk membayar buku itu. Setelah itu berlari menuju rumah Tiara. Dan akhirnya aku sampai juga.

Bisa dibayangkan bagaimana raut muka Tiara saat melihat kami datang. Dia marah sekali. Kurasa suhu tubuhnya naik menjadi 1000C karena dia ngomel yang tiada habis-habisnya. Adrian yang ada di sana tak menghiraukannya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dan aku pun mengikutinya.

Sekitar pukul 5 sore kami menghentikan penelitian. Kami pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, kulempar tasku ke sudut kamar dan mengehempaskan tubuhku ke atas kasur. Kupandangi bintang-bintang yang ada di langit-langit kamarku. Dan tiba-tiba muncul bayangan itu. Senyum Adrian yang tak bisa kulupakan. Membuat hatiku bergetar. Bergetar dan terus bergetar. Hingga membuatku tak kuasa menutup mata.

“Apakah ini yang dinamakan cin……” aku tak meneruskan perkataanku. “Tidak. Apa yang baru saja kukatakan? Ku tak mempunyai perasaan apa-apa sama dia. Ku harus membuang semuanya. Ku tak bisa membiarkan semua ini terjadi.” kataku lirih.

  Keesokan harinya, aku menghindar jika bertemu dengannya. Kupilih berbalik arah jika akan berpapasan dengannya. Walaupun sakit, aku harus melakukannya. Ku tak mau perasaan ini terus bersemanyam dalam lubuk hatiku. Ku harus menghapus semua tentangnya sebelum semuanya terlambat.

Aku hanya bertemu dengannya di saat penelitian saja. Itu pun juga dari jauh. Aku terus menjaga jarak dengannya. Walaupun sebenarnya hatiku terus berontak untuk melepaskan diri, aku tetap menahannya.

“Akhir-akhir ini kamu jadi agak pendiam Vi. Apa kamu ada masalah?” Tanya Tiara kuatir.
Aku bergidik. “Nggak kok. Aku baik-baik saja. Ntar kalau ada masalah, aku pasti cerita.” kataku kemudian. Lalu kembali berkutat pada buku bacaanku.
“Syukur deh kalau gitu. Aku jadi lega. Kukira kamu lagi menghadapi masalah besar sendirian!” katanya lega.
“Oya! aku mau ke kantin nih, kamu mau ikut nggak?” tanyanya kemudian.
“Nggak.” jawabku masih terus berkutat dengan bukuku. Seketika itu Tiara pergi dari hadapanku.

Kuturunkan buku yang kupegang dari pandanganku setelah kurasa Tiara sudah pergi jauh. Kubuka kacamataku. Tetesan air lembut membasahi pipiku. Terus mengalir bersama dosaku pada teman-temanku. Maafkan aku Adrian, maafkan aku Tiara.


Beberapa hari kemudian…


Aku merasa gelisah sekali dalam tidurku. Aku terbayang sosok Adrian. Bayangannya terus mengganggu tidurku. Dia berjalan sendirian di sebuah tempat yang tak kukenal. Terus berjalan memecah gelapnya suasana saat itu. Dia membawa setangkai mawar merah yang penuh dengan duri. Duri-duri itu menusuk jemarinya, hingga membuat jemarinya berdarah. Aku sudah memperingatkan Adrian akan bunga itu, tapi tak ada sautan. Dia terus berjalan tanpa memperdulikanku.

“Adriannnn!” aku terbangun dari tidurku. Ternyata hanya mimpi buruk. Syukurlah. Tapi mimpi yang tadi itu benar-benar nyata. Seakan dia benar-benar akan pergi. Aku jadi bingung, apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku? Ku tak tahu. Belum sekalipun kukatakan perasaanku padanya. Dan sekarang aku benar-benar tak sanggup lagi memendam semua ini sendirian. Aku ingin semuanya jelas dan dia tahu perasaanku yang sesungguhnya. Aku harus jujur padanya.

“Baiklah, akan kukatakan semuanya padanya. Pulang sekolah nanti aku harus menemuinya dan mengatakan ini padanya.”

Keesokan harinya, Tiara tidak datang ke sekolah. Entah kenapa kali ini dia tidak memberitahuku. Biasanya ia akan minta tolong kepadaku untuk memintakan izin. Tapi kali ini tak ada kabar apapun tentangnya. Aku jadi khawatir terjadi apa-apa sama dia. Tapi ya sudahlah, aku akan ke rumahnya nanti, setelah aku dari rumah Adrian, pikirku.

Aku duduk sendirian, menatap kosong ke luar jendela, berputar-putar hingga pandanganku jatuh pada sesuatu dibalik laci kecilku. Sekuntum bunga mawar yang telah layu dan sepucuk surat. Entah kapan kedua benda ini bersarang di sana.

Aku jadi teringat sesuatu mengenai mawar ini. Seperti bunga mawar yang ada dalam mimpiku. Warnanya merah menyala, durinya tajam dan baunya menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Aku jadi merinding. Seluruh bulu kudukku berdiri dibuatnya.

Apakah mungkin ini dari…… batinku tak melanjutkan perkataanku. Kubuka surat itu perlahan. Goresan tinta hitam berjajar rapi di atas kertas itu. Lalu kubaca surat itu.

Dear Viona,
Aku senang waktu pertama kali bertemu denganmu. Kau begitu ramah dan baik padaku. Kadang aku begitu menyusahkanmu, tapi kau tetap baik padaku. Hingga diam-diam rasa itu muncul. Tapi, begitu rasa ini muncul, tiba-tiba kau menjauhiku. Entah apa salahku yang telah melukaimu. Aku bingung dan sedih. Tapi aku sadar, aku tak bisa membuatmu merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Tapi aku tetap bersyukur telah diberikan rasa ini oleh-Nya.
Adrian


Tetes air lembut turun dari kedua mataku. Ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku bahagia sekali.

Hari ini pelajaran berlangsung lama, satu jam pelajaran rasanya seperti sehari saja. Aku gelisah sekali. Kuingin cepat-cepat bertemu Adrian dan meminta maaf kepadanya. Walaupun aku tahu mungkin dia tidak akan memaafkanku.

Teng…… Teng…… Teng……

Akhirnya bunyi bel yang selama ini kutunggu-tunggu berbunyi juga. Aku segera memasukkan semua buku-buku ke dalam ranselku. Kuambil langkah seribu untuk pergi ke rumahnya. Kuterobos kerumunan siswa yang lalu lalang menghalangi jalanku. Ada yang marah-marah, tapi ada juga yang hanya diam saja. Apapun reaksi mereka, aku berharap semuanya mau memaafkanku.

Sesampainya di rumah Adrian, kulihat banyak mobil berjejer rapi di sana. Mungkin sedang ada acara di rumahnya, begitu pikirku. Aku mulai gugup. Tapi kuharus terus melangkah maju.

Sesampainya di depan pintu kulihat banyak orang sedang membacakan tahlil. Ada apa ini? Kulihat Tiara ada diantara mereka. Oh… jadi ini sebabnya. Ada keluarganya yang meninggal.

Agak lama aku berdiri di sana. Terus mencari-cari sosok Adrian. Tiara yang sedari tadi ikut membaca tahlil akhirnya menyadari keberadaanku dan segera bangkit menghampiriku. Dengan berbalut hitam-hitam, dia menarikku menjauhi pintu itu.

“Aku turut berduka cita atas meninggalnya keluargamu, Ra.” kataku sedih.
“Thanks, tapi apa yang kamu lakukan di sini Vio?”
“Aku… Aku ke sini mau mencari Adrian. Aku mau minta maaf padanya. Aku telah melukai hatinya, dia ada kan?” kataku jujur pada Tiara. Aku begitu menyesal.

“ADRIAN?”
“Iya, tolong pangggilkan dia dong, aku mau minta maaf langsung padanya.” desakku pada Tiara.

Akhirnya Tiara menceritakan semuanya. Halilintar seperti sedang menyambarku. Berita buruk itu akhirnya datang. Seluruh organku seperti tak bisa menerima sinyal yang baru saja dikirimkan otakku. Lagi-lagi air mata itu jatuh.

Adrian sudah pergi. Tadi malam dia telah menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit karena terkena demam yang  tinggi. Apa berita ini benar? Atau hanya lelucon yang dibuat mereka? Aku tak bisa menerimanya. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja, tanpa sempat berkata sesuatu padaku.

Aku menangis tersedu-sedu, ku tak percaya akan kata-kata Tiara yang terakhir itu. Aku pergi dari rumah Adrian. Berlari mencari sosok Adrian. Hingga akhirnya kutemukan gundukan tanah basah di pemakaman dekat rumahku yang diatasnya tertulis sebuah nama yang tidak ingin aku lihat di sana.

Kenapa? Kenapa Adrian pergi secepat ini? Aku terisak-isak tak berdaya. Tak perduli walaupun setelah ini aku tidak bisa menangis lagi gara-gara air mataku habis. Yang jelas aku sangat menyesal. Aku menyesal telah membuang waktuku selama ini. “Aku menyesal, kenapa aku sangat egois. Sampai detik-detik terakhirmu pun aku juga belum mengucapkan kata MAAF. Aku memang bodoh.” sesalku. 

“ADRIAAANNNN!!” teriakku menatap langit, kuharap dia bisa mendengarkanku. “Maafkan aku. Aku berjanji akan menjaga perasaanmu itu baik-baik, dan selalu mengenangmu di dalam hatiku. Percayalah padaku. Kali ini aku tak akan mengecewakanmu lagi, Adrian.” kataku sambil menggenggam mawar dan surat darinya dengan erat. “Akan kujaga perasaan ini dalam hatiku.” kataku lagi seraya memeluk mawar itu penuh harap dan arti.

Walaupun mawar ini telah layu, tapi perasaanku padamu tak akan pernah layu, dan akan abadi untuk selamanya.
 

Last Updated on Tuesday, 27 October 2009 02:42
 


NewsFlash

Nilai siswa yang sudah masuk dapat dilihat secara online, dengan memasukkan nomor induk masing-masing. Silakan cek,
di sini (via jaringan internal)
atau
di sini untuk koneksi di luar jaringan SMPN 1 Jetis

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini8
mod_vvisit_counterKemarin15
mod_vvisit_counterMinggu Ini141
mod_vvisit_counterMinggu kemarin275
mod_vvisit_counterBulan ini288
mod_vvisit_counterBulan lalu1204
mod_vvisit_counterSemuanya13872

Online (20 minutes ago): 6
IP Anda: 38.107.191.81
,
Hari ini: Sep 09, 2010

Hubungi Admin

Multimedia Department

School Administrator

Website Administrator