|
Oleh: Yessie Finandita P. / IXB Tak pernah kuharap, ku kan mencintai dirinya. Seolah seperti pangeran, tinggi, ganteng, sempurna. Itupun dimataku bukan di mata teman-temanku. Semua berawal dari kegiatan MOS. Aku dan Trio satu kelompok dalam kegiatan tersebut. Tak disangka kegiatan outbondpun ku bersama dirinya. Dan tanpa kusadari rasa itu hinggap di hatiku. Rasa terlarang yang tak seharusnya ada. Begitu senang jika Trio sms aku. Tapi rasa senang itu hilang ketika aku berbicara dengan Nanda.
“ Trio dulu dekat sama Ratna, Cinta, terus sekarang Echi.” kata Nanda. “ Maksud kamu Nda ?” jawabku dengan polos dan tak tahu menahu. “ Ya sering sms-an gitu.” “ Nda, mereka dekat ya?”jawabku yang mencoba menenangkan hatiku yang mulai gelisah. “ Ya dekat banget malah.”jawab Nanda “ Hancur dech hatiku.” jawabku dengan kesal. Malam itu kubermain gitar di depan rumah. Tiba-tiba Trio sms aku. Dengan kata yang tak mempesona membuatku malas untuk membuka sms itu. Woi Chi cari botol berapa ? 40 saja sudah cukup kok, dilubangin jugu ya Yo? Aku tak berfikir kalau botol yang diperlukan hanya 2. Pagi ini indah sekali tapi hatiku gundah, takut Trio akan marah padaku soal tadi malam. Tapi udara sejuk dan semangatku yang tinggi membuat semua suasana berubah. “ Chi maksud kamu apa? Yang dibutuhinkan hanya 2 tapi kenapa kamu bilang 40? Aku capek nglubangin tahu.” Trio datang dengan wajah marah. “Maaf Trio tadi malam ku tak berfikir kalau yang dibutuhkan hanya 2.” jawabku dengan nada bersalah. “ Aku ditertawakan Pak Riyo tahu. Aku kan jadi malu.” “ Iya maaf dong, gitu saja kok ngambek nanti gantengnya hilang lo.” Semua kegiatan berlangsung sukses dan menyenangkan. Malam itu kuberfikir kalau aku memang suka dengan Trio. Melihatnya dan dekat dengan dirinya rasanya nyaman sekali. Setiap malam kita sering sms-an tetapi mengapa Trio sering menanyakan Cinta ke aku. Aku ngambek dengan dia karena dia tak tahu rasanya hatiku. Akhirnya aku harus bercerita terus terang degan Trio, kalau aku memang sayang sama Trio. Tapi dia cuek, tidak pernah perduli, dan tidak respek. Selalu saja membuatku menangis. Tapi dia tidak menyadari kalau dia telah menyakiti hatiku. Kita tak pernah akur malah kita sering marah-marahan. Aku sudah tahu tentang keganjilan ini, tapi kucoba untuk melupakan ini semua. Karena kuharap dia kan jadi milikku untuk selamanya. Tetapi mengapa Trio selalu saja memamerkan kedekatannya dengan Cinta. Akhirnya aku sms Trio. Yo, apa benar kamu deket sama Cinta? Dekat dong, kan aku sahabatan sama dia. Tapi Yo, kamu suka sama Cinta? Maaf ya Chi ini urusanku Tapi Yo aku hanya ingin tahu saja. Chi, kamu tahu tidak, kamu itu dating disaat aku dekat dengan Cinta. Maksud kamu Yo, yang dating di kehidupanku kan kamu bukan aku. Chi, jangan pernah kamu melihat sms aku dengan Cinta, aku yakin kamu pasti cemburu. Yo, kamu itu hanya bisa membuat aku nangis. Sekarang hanya air mata yang temani tidurku. Pagi ini ku tak semangat sedikitpun. Bahkan untuk melangkahkan kakipun begitu sulit. Aku bercerita dengan teman-temanku, berharap hatiku akan tenang. Tetapi teman-temanku menyuruhku sms Trio untuk mengajak ketemuan. Akhirnya kita ketemuan. Tapi aku tak berani melihatnya. Aku hanya bisa menangis saja dan langsung pergi meninggalkan tempat itu. “Chi, nanti pulang sekolah ditunngu Trio di tempat biasa. Tapi berdua Chi.” tanya Dhofi yang datang menghampiriku. “ Ok dech.” jawabku singkat Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung pergi ke tempat itu. “ Chi, kenapa kamu membawa teman sebanyak itu?” tanya Trio terburu-buru. “ Ku tak menyuruh mereka Yo, itu keinginan mereka sendiri.” jawabku dengan penuh arti. “ Tapi kan bisa kita omongin berdua Chi? Katane kak Tyas kamu dan teman-temanmu membenci Cinta? Ya kan?” “ Tidak Yo. Kita tidak benci kok sama Cinta. Coba saja kamu yang jadi aku, sakit Yo rasanya.” jawabku dengan sedih Tanpa menunggu dia menjawabpun aku langsung pergi dan menangis seketika. Semua serba salah. Jadinya aku sms Cinta sore ini.
Cin, aku rela kalau kamu sama Trio. Tidak Chi, ku tak suka dengan Trio. Udahlah Chi buat apa juga rebutin dia. Tak penting Chi, Tapi Cin, Trio sayang banget sama kamu. Jangan kecewain dia Cin. Udah Chi, tak usah mikirin dia lagi. Malam itu sekitar jam 19.00 aku sms Trio. Yo, aku dah relain kamu untuk Cinta. Walaupun keputusan itu sulit sekali tapi aku harus mengalah walaupun mengalah itu tak berarti kalah. Sampai aku sering mengirimkan kata-kata yang cocok untuk dirinya. Trio ku tak bisa melupakanmu. Aku sayang kamu Trio.ku tak bisa melupakanmu. Kamu terlalu indah di hatiku. Mengapa orang yang kusayangi selalu saja bersama orang lain. Sekitar pukul 20.00 nomor baru masuk di handphoneku. Chi, ini aku Dhofi Lagi ngapain? Ow kamu Fi. Ada apa? Dhofi adalah teman curhatku. Aku sering curhat dengan Dhofi, karena dia teman dekat Trio. Chi, kamu rela tidak kalau Trio sama Cinta? Rela, walaupun sakit dan sulit. Kenapa sih ngomongin ini lagi. Bosen tahu. Tapi Chi, kamu kan juga sayang sama Trio. Mau bagaimana lagi Fi, kalau mereka memang suka sama suka, kenapa tidak. Chi, Trio itu bagaimna menurut kamu? Dia itu orangnya cakep, tinggi, ideal, pokoknya seleraku banget dech. Aku senang lihat Wajah dia yang seperti ksatria. Sudahlah Fi, tak usah ngomongin dia lagi. Walaupun dia Tak sayang sama aku, tapi aku tetap sayang dia Fi. Aku mulai merasakan keganjilan itu, di fikiranku yang sms aku itu Trio bukan Dhofi. Seketika itu juga aku langsung telepon nomor Trio ternyata nomor dia tidak aktif dan aku telepon Dhofi ternyata nomor dia aktif. Pagi ini langsung kutemui Dhofi. “ Fi ini nomor kamu ?”tanyaku “ Bukan kok. Ku tak unya nomor XL. Memangnya ada apa?”jawab Dhofi tak mengerti. “ Kemarin nomor ini sms aku. Ngakunya kamu, dan Tanya masalah aku, Trio dan Cinta. Fi tolong cari siapa yang punya nomor ini.” “ Ok dech, nanti tak carikan.” “ Terima kasih Dhofi.”jawabku senang Malam itu kucoba sms nomor itu. Ternyata benar itu semua adalah kerjaanya Trio. Tapi sudahlah sekarang dia sudah tahu bagaimana perasaanku. Aku coba setengah mati untuk melupakan Trio, tapi tetap saja tak bisa. Tak disangka tak dinyana bulan puasa datang juga aku sambut bulan penuh berkah ini dengan suka cita. Kuberharap akan lebih baik lagi hubunganku bersama dirinya. Tak pernah aku bermaksud mengusikmu Mengganggu setiap ketentraman hidupmu Hanya tak mudah bagiku lupakanmu dan Pergi menjauh Beri sedikit waktu agar kuterbiasa Bernafas tanpamu
Walaupun kita tak pernah berbicara tetapi dia melihatku dan aku melihatnyapun sudah cukup senang. Siangnya kita bahas masalah buka bersama Osis, dan tempatnya dirumahku. Kuharap dia akan datang. Tepat jam 17.00 Trio datang memakai baju hitam yang kelihatan ganteng sekali, bak pangeran yang turun dari langit. Banyak waktu yang kuhabiskan bersama dirinya. Selesai itu semua Trio sms aku. Aku tadi pulang sama dia lo. Dan kita ngobrol sebentar. Memangnya penting kamu cerita seperti itu sama aku. Aku menjadi sebal dengan Trio, suka sekali dia membuat masalah. Di bulan puasa ini aku tak pernah bertengkar dengan dia karena aku lebih memilih untuk diam. Tapi Trio cerita banyak ke aku tentang dia dan keluarga dia. Semua tentang dia. Tapi ku tak mau kalau harus dijadikan yang kedua. Malam itu Trio sms aku, intinya dia pengen lupain aku. Kak Iza bicara sama Trio kalau harus melupakanku, aku memang tak apa untuk dilupakan tapi waktunya belum tepat. Trio yang slalu temani tidurku di setiap mimpiku. Hari kemenanganpun tiba. Aku menanti hari sabtu, karena anak-anak osis ada acara yaitu sejarah kerumahnya Guru SMP. Sekaligus ingin bermaafan dengan teman-teman. Sabtu pagi kupersiapkan baju, celana, kerudung dsb. Aku berangkat pukul 06.45 cukup lama aku menuggu kedatangan Trio, akhirnya Trio datang juga dengan mengenekan hem putih. Sungguh seperti pangeran yang datang menyambut sang tuan putri. Sekilas mataku sulit untuk dikedipkan. Sungguh sangat mempesona. Aku minta maaf sama dia dan dia jabat tangan aku. Aku meminjam handphonenya, lalu kubuka album fotonya kulihat banyak sekali foto Cinta. Sakit rasanya melihat itu semua dan langsung kuberikan pada Yani. Saat itu juga aku sangat sulit untuk senyum. Malamnya Trio sms aku. Chi kenapa kok tadi cemberut? Memangnya senyum kamu itu berapa harganya? Tidak dijual. Hanya orang yang sayang sama sku yang tahu senyum aku. Besoknya aku ganti nomor dan aku sms Trio memakai nomor yang baru. Yo. Ini nomorku yang baru. Kalau sms di nomor ini saja. Echi Echi siapa ya? Aku tidak kenal dengan Echi Aku ini teman kamu Yo? Kok lupa? Oo arek Ponorogo ya? Ini kakaknya Trio, dia sedang sms-an sama Cinta. Ow gitu ya kak. Bilang saja tadi dicariin Echi. Dik. Kamu itu masih kecil, sukane sms-an saja Memangnya Trio sudah besar apa? Eh kamu itu jangan nafsu sama adikku. Jangan harap kamu bisa dapatin dia. Kak, kamu itu sudah besar tapi kenapa tingkah laku kamu itu sama dengan anak kecil. Maaf ya kak aku bukan cewek yang seperi itu. Dari kejadian itu tak terasa air mataku membahasi kedua pipiku. Ternyata besuk sudah masuk sekolah. Aku senang karena aku bisa bertemu dengan teman-temanku. Hari sabtu kita rapat untuk membahas tentang reformasi. Tapi tak tahu entah mengapa Trio melihat Cinta terus. Dari itu aku jadi malas ikut rapat. Menyebalkan. Besoknya Nasti bercerita kepadaku kalau kemarin dia pulang dengan Trio. Intinya Trio tak tahu harus memilih siapa. Dan kalau Trio memilih Cinta, Trio harus melupakan Echi. Tapi kalau Trio memilih Echi, Trio harus melupakan Cinta. Tapi Trio bingung harus memilih siapa. Dua hari setelah itu Nasti mxitan dengan Trio. Intinya Trio lebih memilih Cinta karena sifat Cinta yang tidak sensitiv. Aku rela mengalah dan hujan deras membahasi kedua pipiku. Dari itu semua aku lupa kalau ada pemilihan ketua Osis, aku menuju ke tempat penyontrenganpun aku masih menangis. Dan Trio yang melihat kejadian itu bingung melihat diriku. Akhirnya aku harus berfikir kalau aku memang harus mengalah. Biarkan Cinta dengan Trio asalkan mereka bahagia. Aku merelakan ini semua, walaupun sulit dan sakit untuk diriku. Akhirnya kita semua bersahabat. Dan aku hanya bisa diam seribu bahasa. To Trio Tujulah tempat yang terbaik bagimu, jika kusudah tak lagi dihatimu, dan percayalah hanya bahagiamu buatku tersenyum hingga hari ini. Waktu berlalu bagai kisah yang indah, hingga setiap detik begitu berarti, tak kan kulupakan kenanganku bersamamu buatku tersenyum hingga hari ini. From Echi |