|
Program Aplikasi Sekolah, Jembatan Penghubung Sekolah dengan Masyarakat |
|
|
|
|
Written by admin
|
|
Wednesday, 28 July 2010 03:45 |
|
Perkembangan teknologi informatika yang sedemikian pesat membawa dampak pada dunia pendidikan kita. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dengan memanfaatkan teknologi tersebut sebagai sarana untuk memperlancar proses pendidikan dan pembelajaran. Pemanfaatan ini diyakini sangat mendukung upaya peningkatan keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran. Dalam berbagai kegiatan pendidikan peranan teknologi sudah terbukti sangat membantu kelancaran prosesnya. Oleh karena itulah, maka diharapkan seluruh elemen pendidikan menyadari pentingnya peranan teknologi bagi dunia pendidikannya. Dan, salah satu aspek penting yang dapat memanfaatkan eksistensi teknologi ini adalah aspek hubungan sekolah dengan masyarakat. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi ini, maka terbuka luas kesempatan bagi semua pihak, dalam konteks ini masyarakat atau orang tua siswa untuk memantau secara langsung hasil proses pendidikan yang dijalani oleh anak-anaknya. Hal ini merupakan satu bentuk perkembangan pola pengelolaan program pendidikan. Jika selama ini masyarakat, orangtua hanya dapat mengetahui perkembangan hasil proses pendidikan anak-anaknya setiap semester atau akhir tahun pelajaran, maka dengan penerapan dan pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan memungkinkan orang tua untuk setiap saat dapat mengetahui perkembangan pendidikan anak-anaknya. Hal ini semakin lengkap saat teknologi komunikasi terbuka dan memasuki kehidupan masyarakat secara global. Kehidupan semakin terbuka untuk semua orang sebab teknologi komunikasi dengan internet telah menjadikan dunia begitu dekat dan tidak berliku-liku lagi. Di setiap daerah, tempat masyarakat dapat mengakses berbagai hal dari internet. Setiap orang dapat berkomunikasi dengan orang lain walaupun mereka berada pada letak geografi yang berbeda, bahkan berjauhan. Dengan terkoneksinya mereka dalam sebuah jaringan, maka mereka dengan mudah dapat berhubungan, berkomunikasi. Dan, koneksi inilah yang selanjutnya membuka pengetahuan dan kesadaran kita atas pentingnya pengetahuan dan keterampilan teknis. Program Aplikasi Sekolah (PAS) Program aplikasi sekolah merupakan program aplikasi teknologi ke dalam dunia pendidikan sebagai upaya untuk mempermudah sistem pelayanan dan pendidikan yang dilakukan di sekolah. dengan menerapkan program aplikasi sekolah ini, diharapkan dapat tercipta sebuah jembatan yang menghubungkan sekolah dengan masyarakat. Selama ini yang terjadi adalah terbatasnya kontribusi masyarakat ke dalam proses pendidikan sebab koneksi mereka ke dalam proses pendidikan belum maksimal. Orangtua tidak secara langsung mengetahui segala hal yang dialami oleh anak-anaknya di sekolah, termasuk perubahan-perubahan yang dialami anaknya pada saat mengikuti proses pendidikan. Program aplikasi sekolah merupakan program aplikasi yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk secara aktif berperan serta secara aktif dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Hal ini sangat penting sebab selama ini yang terjadi adalah adanya anggapan bahwa sekolah merupakan sebuah institusi tersendiri dalam masyarakat. Padahal jika kita telaah, sekolah dan masyarakat adalah satu kesatuan integral dari komunitas hidup dengan kontribusi yang saling mendukung. Untuk dapat mencapai tujuannya, maka sekolah dan masyarakat harus berperan bersama sesuai dengan kapasitas dan kontribusinya. Oleh karena itulah, maka perlu kesempatan masyarakat, ornag tua siswa untuk selalu dapat mengakses perkembangan hasil proses pendidikan anak-anaknya. Mereka harus dapat memperoleh informasi secepatnya tentang kondisi anak-anaknya tersebut sehingga dengan demikian, maka orangtua dapat menempatkan diri secara proporsional. Orang tua memang menbutuhkan alat komunikasi yang tidak ribet dan dapat diakses dimana saja. Orangtua harus dapat secara mudah memperoleh informasi, bahkan saat sekolah libur dan orangtua berada di luar kota. Hal ini sangat mungkin terjadi sebab banyak orangtua yang aktif bekerja sehingga tidak banyak waktu ke sekolah. Dalam konteks inilah, peranan Program Aplikasi Sekolah dapat menuntup kebutuhan informasi secara bebas bagi masyarakat, orang tua siswa. Setiap saat masyarakat, orangtua dapat mengakses informasi banyak hal tentang sekolah. Selama ini komunikasi sekolah dengan masyarakat, orangtua siswa dilakukan secara face to face sehingga seringkali hal tersebut terkendala oleh berbagai kepentingan yang kadang berbenturan. Pola kehidupan yang dijalani oleh setiap orang sangat berbeda sehingga tidak sedikit orangtua yang sedikit sekali kesempatannya untuk berkomunikasi face to face dengan sekolah, khususnya wali kelas anaknya. Akibatnya, setiap kali ada undangan untuk berkonsultasi, maka seringkali jadwal yang dibuat oleh wali kelas, sekolah tidak terpenuhi. Kalaupun terpenuhi, maka hanya salah satu dari orangtua siswa yang mendatanginya dan mendapatkan informasi tentang anaknya. Hal ini jelas kurang kontributif bagi kelancaran proses pendidikan. Banyak masalah yang tidak terselesaikan secara maksimal dan banyak membuang waktu sia-sia. Dengan penerapan dan pemanfaatan teknologi informasi melalui program aplikasi sekolah, maka keterbatasan tersebut dapat ditembus dan dipermudah. Dan, jalur informasi sekolah dengan masyarakat semakin terbuka sehingga masyarakat dapat mengetahui dan selanjutnya berperan aktif dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Hal ini sangat penting sehingga tidak terjadi missunderstanding atas kondisi anak didik di sekolah dan di lingkungan keluarga. Salah pengertian yang sering terjadi adalah mengetahui kondisi, sikap anak di sekolah dan di lingkungan keluarga. Artinya, seringkali terjadi perbedaan info sikap anak didik pada saat di sekolah dengan di keluarga, apalagi di masyarakat. Anak-anak yang manis saat berada di lingkungan keluarga ternyata dapat saja menjadi anak-anak bengal saat berada di lingkungan masyarakat, yang selanjutnya berdampak pada kondisi saat berada di sekolah. Jika hal ini dibiarkan, maka yang terjadi penanganan yang kadaluwarsa. Orang tua mengetahui anaknya bermasalah jika sudah mendapatkan panggilan dari sekolah. Stadium empat, gawat!! Kondisi seperti ini menempatkan orangtua hanya sebagai konsumen dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Padahal, didalam konteks pendidikan, orangtua adalah salah satu elemen yang bertanggungjawab terhadap proses dan hasil pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. Dan, sebagai bagian dari proses pendidikan, maka peran serta orangtua sangat dibutuhkan sebagai pendukung proses. Dalam hal ini peran serta orangtua adalah sebagai pemantau perkembangan anak didik dan segera melakukan langkah konkrit terhadap anaknya jika di dalam proses pendidikan anaknya mengalami perubahan yang signifikan. Jika orangtua benar-benar mengambil posisi secara benar, maka segala permasalahan yang dihadapi oleh anak-anaknya segera data diketahui sebelum kondisi tersebut parah. Disinilah pentingnya program aplikasi sekolah dalam mendukung program sekolah. Terkait dengan program sekolah, pemanfaatan program aplikasi sekolah dapat memuat banyak aspek kegiatan dan kebutuhan proses pendidikan. Bahkan dengan program ini, maka sekolah dapat memberikan informasi atau menerima informasi dari masyarakat atas eksistensi sekolah dalam masyarakat. Secara online sekolah dapat melayani kebutuhan masyarakat atas segala hal terkait dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan. Masyarakat, orangtua siswa dapat mengakses langsung informasi mengenai anak-anaknya dan memberikan masukan info kepada sekolah terkait dengan kondisi anak-anaknya tersebut. Dibutuhkan tenaga yang kompeten dan sarana yang memadai Sebagai hasil perkembangan teknologi informasi yang dapat dikatakan baru, tentunya program ini tidak dapat diserahkan kepada sembarang orang. Artinya, tidak sembarang orang dapat menerapkan dan menangani program ini sesuai dengan konsep dasarnya. Oleh karena itulah, maka perlu adanya orang-orang tertentu yang secara signifikan menguasai teknologi tersebut dan menangani setiap aspek terkait dengan penerapannya. Tenaga ini harus dapat sebagai programmer, operator maupun teknisi, tetapi setidaknya sebagai operator yang handal sudahlah cukup. Program aplikasi sekolah memang membutuhkan orang-orang khusus yang mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan semua kegiatan sehingga tujuan program benar-benar dapat dinikmati masyarakat. Dalam hal ini tenaga khusus tersebut bertindak sebagai admin yang memoderatori setiap hal terkait dengan upaya melayani masyarakat secara maksimal. Dengan demikian, tenaga operasional ini tidak hanya kompeten dalam bidang teknologi informasi ini, melainkan juga mempunyai rasa tanggungjawab profesi dan dedikasi yang tinggi serta loyal terhadap kegiatan. Hal ini karena petugas harus melayani masyarakat setiap saat dibutuhkan dan hal tersebut berarti petugas harus siap, stand by setiap saat. Oleh karena itulah, maka agar program ini dapat berjalan sebagaimana konsep dasarnya, sekolah harus benar-benar mempersiapkan segala hal terkait dengan program. Dalam hal ini yang kita perlukan adalah sarana prasarana dan tenaga yang menangani program ini. Tentunya jika program ini tidak didukung dengan dua hal ini, semua hanya menjadi sesuatu yang enak didengar tetapi pahit dirasakan. Dan kita tidak mungkin menambah program seperti ini, sudah terlalu banyak program yang hanya manis saat didengarkan, tetapi sangat pahit di dalam pelaksanaannya. Programnya sangat bagus dan jelas tergambarkan hasil yang sangat bagus, tetapi ketika program tersebut diterapkan ternyata sama sekali tidak memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dan pengembangan pendidikan secara umum dan khususnya kualitas sekolah. Tentunya untuk menangani program ini memang dibutuhkan pembiayaan yang cukup besar, tetapi dengan pemrogram yang bagus, semua itu dapat diatasi. Sekali lagi kita perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam mewujudkan program ini. Tentunya dalam hal ini kita berdayakan peranan komite sekolah sebagai stakeholder pendidikan. Kita seharusnya menyadarkan atas peran dan tanggungjawab serta kewajiban masyarakat terhadap perkembangan dan pengembangan sekolah secara keseluruhan, khususnya masyarakat yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah kita. Bukankah program ini juga untuk memberikan pelayanan prima bagi masyarakat, orangtua anak didik?! Tenaga yang kompeten dapat kita peroleh dengan memberikan pelatihan khusus kepada salah seorang personil sekolah. Sebenarnya untuk menguasai teknologi informasi ini tidak terlalu rumit jika kita sudah mempelajarinya secara intens. Dan, untuk penguasaan ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itulah, maka sekolah perlu memberikan pelatihan dengan cara mengikutkan personil tersebut dalam kegiatan-kegiatan peningkatan kualitas terhadap teknologi informasi, khususnya terkait dengan program aplikasi sekolah ini. Sementara untuk masalah sarana prasarana, sekolah dapat melakukan rembug bersama dengan komite sekolah untuk dapat mewujudkan program ini. Setidaknya yang kita butuhkan dalam hal ini adalah seperangkat komputer dengan kapasitas spesifikasi yang memadai dan sambungan jaringan internet. Dan, jika sarana ini kita perhitungkan, sebenarnya relative murah untuk sebuah program yang sangat bagus bagi dunia pendidikan. Kiranya, masyarakat, orangtua siswa tidak menolak jika sekolah menjelaskan secara detail tujuan program untuk kemajuan ke depan dari proses pendidikan di sekolah. Aspek Pendukung dan Kendala penerapan PAS Sebagai sebuah program, tentunya tidak lepas dari pendukung dan kendala pada saat penerapannya. Hal ini merupakan perimbangan kondisi sehingga kita dapat menganalisa signifikan dan tidaknya program kita terapkan pada saat sekarang. Setiap kegiatan kegiatan memang selalu membawa aspek pendukung dan penghambat atau kendala kegiatan. Dalam hal ini selanjutnya hal terpenting adalah terlaksananya program sebaik-baiknya. Tetapi, dalam hal ini kita perlu mengetahui beberapa aspek yang mendukung dan mengambat dalam penerapan program aplikasi ini. Dengan mengetahui aspek pendukung dan penghambat, Selanjutnya kita dapat melakukan koreksi dan melakukan revisi atas program yang sudah dicanangkan. Setidaknya kita perlu mengetahui bahwa program ini membutuhkan sarana dan prasarana serta tenaga khusus yang bertugas mengoperasionalkan program sebaik-baiknya. Disamping itu, kita membutuhkan jaringan internet sehingga program dapat berlangsung secara on line dan dapat secara langsung diakses oleh masyarakat dari jaringan internet, di rumah ataupun melalui warnet-warnet yang sekarang ini sudah tersebar hingga wilayah desa. Jika jaringan internet sudah cukup bagus di wilayah, maka setiap masyarakat, orangtua dapat mengakses darimana saja. Dengan program ini, maka ke depannya, orangtua tidak harus datang ke sekolah untuk mengetahui kondisi anak-anaknya. Orangtua tidak perlu berduyun-duyun ke sekolah hanya untuk mengetahui hasil proses pendidikan anaknya di akhir semester atau akhir tahun. Dalam hal ini orangua hanya perlu datang ke warnet dan mengakses jaringan sekolah atau program aplikasi sekolah dan mengunduh setiap hal yang dibutuhkan terkait dengan kondisi hasil belajar anak-anaknya. Memang, perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat merupakan aspek utama yang medukung penerapan program aplikasi sekolah ini. Dengan tersebarnya jaringan internet ke berbagai penjuru dunia, maka setiap orang data mengakses apapun yang diinginkan dan dibutuhkannya dari internet. Internet adalah dunia luas yang mampu kita kelilingi dari rumah, melalui seperangkat komputer. Permasalahan timbul ketika kita menyadari bahwa tidak semua orangtua menguasai teknologi informasi ini. Hal ini harus menjadi perhitungan sebab tujuan pelayanan prima bagi masyarakat, orangtua siswa tidak dapat terjangkau secara keseluruhan akibat kemmapuan orangtua yang tidak sama. Terus terang saja, masih cukup banyak orangtua yang belum menguasai teknologi informasi sehingga program yang kita anggap bagus ini bagi mereka sama sekali tidak berguna. Untuk hal tersebut, kita perlu melakukan sosialisasi program sebaik-baiknya kepada masyarakat, khususnya orangtua siswa. Dalam hal ini kita sekaligus mengajak mereka untuk melek teknologi agar mampu mengikuti dinamisasi sekolah dan dunia pendidikan. Bagaimanapun dunia pendidikan harus selalu mengeikuti setiap perkembangan yang terjadi dalam kehidupan. Hal ini karena dunia pendidikan merupakan upaya untuk mengapresiasi kebutuhan yang tumbuh dalam kehidupan dan selanjutnya menciptakan sebuah proses yang mampu memberikan bekal bagi anak didiknya. Bekal terbaik merupakan tujuan akhirnya. Pada sisi lainya, pembekalan kepada anak didik merupakan salah satu bentuk pelayanan prima bagi masyarakat. Oleh karena itulah, maka setiap elemen terkait dalam proses pendidikan harus memahami setiap program yang dicanangkan oleh sekolah. Dan, Program Aplikasi Sekolah (PAS) yang diterapkan di sekolah merupakan bentuk pelayanan prima bagi masyarakat sehingga secara dini dapat memberikan bantuan dan peran sertanya dalam dunia pendidikan. Setiap sekolah memang perlu melakukan revolusi atas pelayanan terhadap masyarakat sebab dengan revolusi tersebut, diharapkan dapat dilakukan perkembangan dan pengembangan kualitas pelayanan untuk menjaga eksistensinya. Semoga dengan penerapan Program Aplikasi Sekolah (PAS) ini, maka masyarakat benar-benar terkontribusi dalam peran sertanya meningkatkan kualitas proses pendidikan. Dengan PAS ini, maka masyarakat dapat mengetahui secara dini permasalahan yang mungkin dihadapi oleh anak-anaknya sehingga orangtua terlibat secara langsung dalam proses pendidikan anak-anaknya. Dengan demikian, maka jika ada anak yang melakukan kesalahan atau terjadi penurunan kualitas hasil proses pendidikan pada anak, orang tua segera mengetahui dan segera mengambil langkah konkrit untuk memperbaiki sikap, kondisi anaknya. Dengan demikian, maka permasalahan yang dihadapi oleh anak didik tidak akan kadaluwarsa atau parah. PAS merupakan program informasi sekaligus langkah antisipasi setiap permasalahan yang tumbuh dan berkembang dalam proses pendidikan anak didik. Dengan PAS ini, maka orangtua dapat memperoleh info tentang anaknya setiap saat, sesuai dengan keinginannya dan tidak perlu ke sekolah berduyun-duyun seperti saat penerimaan rapor. Orangtua hanya datang ke sekolah jika dibutuhkan saja. Oleh karena itulah, maka kita harus segera menerapkan program ini agar pelayanan kita benar-benar dapat prima untuk masyarakat. Artikel ini bersumber dari: http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/message/7674 |
|
Written by admin
|
|
Thursday, 01 October 2009 00:05 |
|
Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah "keagamaan" yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenarannya dari segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari bahwa tujuannya adalah mencipakan keharmonisan antara sesama. Hemat saya, paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasan. Menurut pandangan pertama - dari segi hukum - kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan serta tidak mengundang dosa. Jika demikian, halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa. menjadi halal dengan jalan memohon maaf. Menurut pandangan kedua - dari segi bahasa - akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti "menyelesaikan problem", "meluruskan benang kusut", "melepaskan ikatan", dan "mencairkan yang beku". Jika demikian, ber-halal bihalal merupakan suatu bentuk aktivitas yang mengantarkan pada pelakunya untuk meluruskan benag kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya beku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap tidal adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungan dari kesalahpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang beku dihangatkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan. Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehingga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan , maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal . Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam. foto-foto: suasana halal bihalal di lingkungan keluarga besar SMPN 1 Jetis Ponorogo  

|
|
Last Updated on Tuesday, 06 October 2009 03:29 |
|
|
PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL |
|
|
|
|
Written by admin
|
|
Wednesday, 29 April 2009 00:52 |
|
Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.
Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang - menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?
Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.
PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama.
Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini.
Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).
Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan ("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.
Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.
Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.
Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.
Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas.
Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.
Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya? Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?
Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut.
Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja.
Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan.
PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda mulai saat ini.
Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.
Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?
Harapan Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.
Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan. Sumber: http://re-searchengines.com/amukminin.html Penulis: Amirul Mukminin Staf Pengajar UPT - Kebahasaan UNJA /ASM Jambi, Manejer LPK Bahasa Inggris -MEC di Jambi |
|